Mengapa kita
harus belajar bahasa indonesia
Bahasa indonesia merupakan bahasa persatuan sehingga kita
harus mempelajari serta menjungjung bahasa indonesia. Bahasa indonesia
merupakan suatu alat agar kita dapatberkomunikasi dengan baik antar sesama
penduduk indonesia sendiri walaupun berbeda-beda dalam halnya agama, ras,
bahasa, adat dan suku.
Sebagai calon pengajar kita diharuskan belajar bahasa
indonesia karena penguasaan bahasa merupakan hal utama diperlukan dalam proses pembelajaran agar
materi yang disampaikan dapat diserap oleh siswa dengan baik. Selain itu sebagai mahasiswa untuk menempuh S1 harus
menyusun sekripsi terlebih dahulu. Dalam proses penyusunan sekripsi itu sendiri
sangat dibutuhkan penguasaan kata yang luas dan baik dalam segi bahasa maupun
penulisannya, maka kita harus belajar bahasa indonesia.
Mengapa
kita harus belajar bahasa indonesia
February 9, 2010 loveyuli
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi
Republik Indonesia dan bahasa persatuan Bangsa Indonesia. Bahasa Indonesia
diresmikan penggunaannya setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tepatnya
sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di timor leste
Bahasa Indonesia adalah bahasa kerja. Dari sudut pandang linguistika , Bahasa
Indonesia adalah suatu varian bahasa melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa
melayu riau dari abad ke-19, namun mengalami perkembangan akibat penggunaanya
sebagai bahasa kerja dan proses pembakuan di awal abad ke-20. Hingga saat ini,
Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata
baru, baik melalui penciptaan, maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa
asing.
Meskipun saat ini dipahami oleh
lebih dari 90% warga Indonesia, Bahasa Indonesia tidak menduduki posisi sebagai
bahasa ibu bagi mayoritas penduduknya. Sebagian besar warga Indonesia berbahasa
daerah sebagai bahasa ibu. Penutur Bahasa Indonesia kerap kali menggunakan
versi sehari-hari (kolokial) dan/atau mencampuradukkan dengan dialek Melayu
lainnya atau bahasa ibunya. Namun demikian, Bahasa Indonesia digunakan sangat
luas di perguruan-perguruan, di surat kabar, media elektronika, perangkat
lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga
dapatlah dikatakan bahwa Bahasa Indonesia digunakan oleh semua warga Indonesia.
Indonesia adalah Negara yang kaya
akan budaya. Bahasa adalah salah satu dari keanekaragaman budaya. Di setiap
daerah mempunyai bahasa yang berbeda-beda, seperti dipulau jawa masyarakatnya
berkomunikasi dengan menggunakan bahasa jawa. Bahasa jawa juga di bagi lagi,
ada bahasa jawa kasar dan halus, setiap hari mereka berbicara dengan bahasa
jawa. Dengan kebiasaan mereka yang seperti itu akan menyebabkan mereka tidak
mengerti bahasa Indonesia. Saya mempunyai pengalaman, ketika saya pulang
kampung bertemu dengan nenek saya, saya sangat bingung dan sulit untuk
berkomunikasi dikarenakan nenek saya tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia dan
tidak mengerti bahasa Indonesia.
Dengan membiasakan komunikasi dengan
bahasa Indonesia akan memudahkan kita dalam berkomunikasi antar daerah. Kita
bangsa Indonesia maka bahasa yang di gunakan adalah bahasa Indonesia. Sebagai
orang indonesia, pasti beranggapan bahwa kita ini sudah mengerti bahasa
indonesia. Pada kenyataannya ternyata belum, yang membuat saya terkejut adalah
banyaknya penulis yang belum mahir menggunakan bahasa Indonesia. Saya sendiri
merasa bahasa Indonesia saya masih lemah semestinya kita belajar lagi. Jangan
karena merasa sudah menggunakan bahasa indonesia sehari-hari lantas otomatis
pandai. Ayo kita belajar bahasa Indonesia lagi, Bagaimana kita bisa menghargai
budaya kita kalau bahasa Indonesia kita kacau belum benar.
Banyak jawaban yang dapat
diberikan atas pertanyaan di atas, tentu saja sesuai dengan sudut pandang
kita masing-masing. Tulisan kali ini mengedepankan hasil adaptasi yang penulis
lakukan atas pandangan S. Effendi terkait dengan pertanyaan itu. Pandangan beliau
yang sangat bernalar ini sengaja penulis angkat hampir seutuhnya dalam rangka
berbagi dengan para pembaca yang budiman. Semoga bermanfaat.
Menurut beliau, bahasa adalah sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Kita dikenal dan menjadi populer di lingkungan pekerjaan atau di lingkungan lainnya, apabila kita mau dan mampu memahami orang lain dan mampu pula membuat orang lain memahami kita. Kita berhasil dalam belajar, bekerja, atau melakukan berbagai aktivitas, biasanya juga karena kita dapat memahami orang lain dan dapat pula membuat orang lain memahami kita. Semakin mampu kita memahami orang lain dan membuat orang lain memahami kita, biasanya akan semakin populer dan semakin berhasil kita dalam mengharungi kehidupan bermasyarakat. Tegasnya, kepopuleran dan keberhasilan itu antara lain bergantung pada adanya upaya untuk saling memahami di antara sesama manusia.
Saling memahami itu, berhubungan erat dengan penggunaan sumber daya bahasa yang dimiliki seseorang. Kita dapat memahami orang lain dengan baik apabila kita bersedia mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan orang lain dan mau membaca dengan baik apa yang dituliskan orang lain. Sebaliknya kita dapat membuat orang lain memahami kita dengan baik, apabila kita mewicara dan atau menulis dengan baik untuk orang lain. Dengan kata lain, saling memahami ini sangat bertemali dengan kemauan dan keterampilan kita dalam mendengarkan, mewicara, membaca, dan menulis.
Ketika kita mendengarkan orang lain, membaca tulisan orang lain, mewicara dengan orang lain, dan menulis untuk orang lain, berarti kita berkomunikasi dengan orang lain. Agar komunikasi ini berdaya-guna (efektif), kita perlu membina keterampilan mendengarkan, mewicara, membaca dan menulis. Semua keterampilan ini dapat dimiliki apabila kita mau mempelajari dan membinanya secara terus menerus. Manusia yang tidak mau membina dirinya sendiri, tidak akan memiliki keterampilan tersebut, sebab semua keterampilan itu belum dimiliki sejak kita dilahirkan.
Kini, delapan puluh empat tahun sesudah Sumpah Pemuda diikrarkan, atau hampir enam puluh tujuh tahun sesudah Undang-Undang Dasar 1945 menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, pemakaian bahasa Indonesia makin meluas dan menyangkut beragam bidang kehidupan. Berbagai informasi dari seantero dunia yang kita dapatkan melalui internet, antara lain ditulis dalam bahasa Indonesia. Kita mendengarkan radio dan menonton televisi menyiarkan berita tentang bermacam peristiwa kehidupan bangsa, juga dalam bahasa Indonesia. Kita mendengarkan pidato kenegaraan, disampaikan pula dalam bahasa Indonesia. Beraneka ragam buku dan media cetak lainnya, sebagian besar juga ditulis dalam bahasa Indonesia. Begitu pula dengan bahasa pengantar di semua lembaga pendidikan dan dalam berbagai komunikasi resmi di negara kita, juga mempergunakan bahasa Indonesia.
Andai kita tidak memiliki pengetahuan dasar tentang penggunaan bahasa Indonesia dan tidak mampu berbahasa Indonesia, apakah yang akan terjadi kini pada diri kita? Mungkinkah kita dapat menyerap segala informasi seperti yang dijelaskan sebelumnya, jika tidak memiliki kemampuan membaca dan mendengar yang memadai? Andai sudah memiliki kemampuan membaca dan mendengar yang memadai, akankah kita mampu membagi informasi yang didapatkan, tanpa memiliki kemampuan mewicara dan menulis yang memadai pula? Tentu tidak, bukan? Ketidakmampuan dalam berbahasa Indonesia ini menurut Effendi akan menyebabkan kita menjadi orang yang “buta informasi” dan juga “buta kemajuan zaman”. Lebih dari itu, kita pun tidak akan mampu berbagi ilmu dan informasi dengan orang lain.
Setujukah Anda dengan pandangan di atas? Jika setuju, marilah kita secara bersungguh-sungguh berupaya meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia, dimulai dari diri masing-masing. Mari kita belajar menyerap informasi lewat kegiatan mendengarkan dan membaca serta berlatih pula berbagi ilmu pengetahuan melalui kegiatan mewicara dan menulis. Teriring harapan semoga bekal pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia yang dimiliki, dapat membantu kita dalam menumbuhkembangkan keterampilan berbahasa Indonesia kelak.
Dengan begitu, mudah-mudahan, — pelan tapi pasti – kita dapat berkiprah sebagai pengguna bahasa yang memiliki kompetensi dan performansi yang memadai di bidang ini. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan berupaya menjadi penyimak dan pembaca yang baik, untuk kemudian juga terus berlatih menjadi seorang pewicara dan penulis yang baik. Sebagai seorang penulis yang baik, kita harus berupaya untuk mampu pula menghadirkan karya tulis terbaik yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan bernalar.
Menurut beliau, bahasa adalah sumber daya bagi kehidupan bermasyarakat. Kita dikenal dan menjadi populer di lingkungan pekerjaan atau di lingkungan lainnya, apabila kita mau dan mampu memahami orang lain dan mampu pula membuat orang lain memahami kita. Kita berhasil dalam belajar, bekerja, atau melakukan berbagai aktivitas, biasanya juga karena kita dapat memahami orang lain dan dapat pula membuat orang lain memahami kita. Semakin mampu kita memahami orang lain dan membuat orang lain memahami kita, biasanya akan semakin populer dan semakin berhasil kita dalam mengharungi kehidupan bermasyarakat. Tegasnya, kepopuleran dan keberhasilan itu antara lain bergantung pada adanya upaya untuk saling memahami di antara sesama manusia.
Saling memahami itu, berhubungan erat dengan penggunaan sumber daya bahasa yang dimiliki seseorang. Kita dapat memahami orang lain dengan baik apabila kita bersedia mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan orang lain dan mau membaca dengan baik apa yang dituliskan orang lain. Sebaliknya kita dapat membuat orang lain memahami kita dengan baik, apabila kita mewicara dan atau menulis dengan baik untuk orang lain. Dengan kata lain, saling memahami ini sangat bertemali dengan kemauan dan keterampilan kita dalam mendengarkan, mewicara, membaca, dan menulis.
Ketika kita mendengarkan orang lain, membaca tulisan orang lain, mewicara dengan orang lain, dan menulis untuk orang lain, berarti kita berkomunikasi dengan orang lain. Agar komunikasi ini berdaya-guna (efektif), kita perlu membina keterampilan mendengarkan, mewicara, membaca dan menulis. Semua keterampilan ini dapat dimiliki apabila kita mau mempelajari dan membinanya secara terus menerus. Manusia yang tidak mau membina dirinya sendiri, tidak akan memiliki keterampilan tersebut, sebab semua keterampilan itu belum dimiliki sejak kita dilahirkan.
Kini, delapan puluh empat tahun sesudah Sumpah Pemuda diikrarkan, atau hampir enam puluh tujuh tahun sesudah Undang-Undang Dasar 1945 menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, pemakaian bahasa Indonesia makin meluas dan menyangkut beragam bidang kehidupan. Berbagai informasi dari seantero dunia yang kita dapatkan melalui internet, antara lain ditulis dalam bahasa Indonesia. Kita mendengarkan radio dan menonton televisi menyiarkan berita tentang bermacam peristiwa kehidupan bangsa, juga dalam bahasa Indonesia. Kita mendengarkan pidato kenegaraan, disampaikan pula dalam bahasa Indonesia. Beraneka ragam buku dan media cetak lainnya, sebagian besar juga ditulis dalam bahasa Indonesia. Begitu pula dengan bahasa pengantar di semua lembaga pendidikan dan dalam berbagai komunikasi resmi di negara kita, juga mempergunakan bahasa Indonesia.
Andai kita tidak memiliki pengetahuan dasar tentang penggunaan bahasa Indonesia dan tidak mampu berbahasa Indonesia, apakah yang akan terjadi kini pada diri kita? Mungkinkah kita dapat menyerap segala informasi seperti yang dijelaskan sebelumnya, jika tidak memiliki kemampuan membaca dan mendengar yang memadai? Andai sudah memiliki kemampuan membaca dan mendengar yang memadai, akankah kita mampu membagi informasi yang didapatkan, tanpa memiliki kemampuan mewicara dan menulis yang memadai pula? Tentu tidak, bukan? Ketidakmampuan dalam berbahasa Indonesia ini menurut Effendi akan menyebabkan kita menjadi orang yang “buta informasi” dan juga “buta kemajuan zaman”. Lebih dari itu, kita pun tidak akan mampu berbagi ilmu dan informasi dengan orang lain.
Setujukah Anda dengan pandangan di atas? Jika setuju, marilah kita secara bersungguh-sungguh berupaya meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia, dimulai dari diri masing-masing. Mari kita belajar menyerap informasi lewat kegiatan mendengarkan dan membaca serta berlatih pula berbagi ilmu pengetahuan melalui kegiatan mewicara dan menulis. Teriring harapan semoga bekal pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia yang dimiliki, dapat membantu kita dalam menumbuhkembangkan keterampilan berbahasa Indonesia kelak.
Dengan begitu, mudah-mudahan, — pelan tapi pasti – kita dapat berkiprah sebagai pengguna bahasa yang memiliki kompetensi dan performansi yang memadai di bidang ini. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan berupaya menjadi penyimak dan pembaca yang baik, untuk kemudian juga terus berlatih menjadi seorang pewicara dan penulis yang baik. Sebagai seorang penulis yang baik, kita harus berupaya untuk mampu pula menghadirkan karya tulis terbaik yang ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik dan bernalar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar